Senin, 18 Januari 2016

SEJARAH KODIFIKASI AL-QUR'AN



Pendahuluan
Al-Qur’an sebagaimana yang dimiliki umat Islam sekarang ternyata mengalami proses sejarah yang cukup panjang dan upaya penulisan dan pembukuan (kodifikasi). Pada zaman Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an belum dibukukan ke dalam satu mushaf. Tetapi masih terpisah-pisah penulisannya . Al-Qur’an baru ditulis dalam menggunakan kepingan-kepingan tulang, pelapah-pelapah kurma, lempengan batu-batu dan lain-lain, yang sesuai dengan kondisi peradaban masyarakat waktu itu yang belum mengenal adanya alat-alat tulis menulis, seperti kertas dan pensil.
Pada hakikatnya Allah menjamin kemurnian dan kesucian Al-Qur’an, selamat dari usaha-usaha pemalsuan, penambahan atau pengurangan-pengurangan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Hijr: 9, dan juga dalam surat Al-Qiyamah: 17-19. Dalam catatan sejarah dapat dibuktikan bahwa proses kodifikasi dan penulisan Al-Qur’an dapat menjamin kesuciannya secara meyakinkan. Al-Qur’an ditulis sejak Nabi masih hidup. Begitu wahyu turun kepada Nabi, Nabi langsung memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk menuliskannya secara hati-hati. Begitu mereka tulis, kemudian mereka hafalkan sekaligus mereka amalkan.
Usaha pengumpulan dan kodifikasi Al-Qur’an telah dimulai sejak masa Rasulullah saw. Secara resmi kodifikasi Al-Qur’an dimulai pada masa khalifah Abu Bakar bin Khattab. Pada masa khalifah Utsman, Al-Qur”an kemudian diseragamkan tulisan dan bacaannya demi menghindari beberapa hal. Mushaf yang diseragamkan inilah yang kemudian dikenal dengan mushaf Utsmani. Mushaf Utsmani kemudian diberi harakat dan tanda baca pada masa Ali bin Abi Thalib. Ada beberapa perbedaan tentang urutan ayat maupun surah seperti yang dicantumkan dalam mushaf Utsmani, hal ini dikarenakan perbedaan pendapat para penghapal Al-Qur’an dan karena turunnya Al-Qur’an memang tidak berurutan seperti yang terdapat dalam mushaf Utsmani.
Makalah ini akan menguraikan tentang sejarah kodifikasi Al-Qur’an dari masa Rasulullah, masa Abu Bakar, masa Utsman bin Affan dan perbedaan kodifikasi antara masa Abu Bakar dan masa Utsman bin Affan.
Pembahasan
Pengertian Kodifikasi Al-Qur’an
Kata kodifikasi/ pengumpulan Al-Qur’an (Jam’ Al-Qur’an) terkadang dimaksudkan sebagai pemeliharaan dan penjagaan dalam dada (bilhifzhi), dan terkadang dimaksudkan sebagai penulisan keseluruhannya, huruf demi huruf, kata demi kata, ayat demi ayat dan surat demi surat (bilkitaabah). Yang kedua ini medianya adalah shahifah-shahifah dan lembaran-lembaran lainnya, sedangkan yang pertama medianya adalah hati dan dada .
Hal senada dijelaskan oleh Manna’ Khalil Al-Qathan (2001:178-179) dalam bukunya Mabaahis fi Ulumil Qur’an , ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Pengumpulan Al-Qur’an (Jam’ul Qur’an) oleh para ulama adalah salah satu dari dua pengertian berikut :
Pertama, pengumpulan dalam arti hifzuhu (menghafalnya dalam hati). Jumma’ul Qur’an artinya huffazuhu (penghafal-penghafalnya, orang yang menghafalkannya di dalam hati). Inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah kepada Nabi, Nabi senantiasa menggerakkan kedua bibir dan lidahnya untuk membaca Al-Qur’an ketika hal itu diturunkan kepadanya sebelum selesai membacakannya, karena ingin menghafalnya.Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Qiyamah : ayat 16-19.
Kedua, pengumpulan dalam arti kitabatuhu kullihi (penulisan Al-Qur’an seluruhnya) baik dengan memisahkan-memisahkan ayat-ayat dan surat-suratnya, atau menertibkan ayat-ayat semata dan setiap surah ditulis dalam satu lembaran secara  terpisah, atau menertibkan ayat-ayat dan suratnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul yang menghimpun semua surat.

Kodifikasi Al-Qur’an Pada Masa Rasulullah SAW.
Kodifikasi  Al-Qur’an pada zaman Rasulullah SAW ditempuh dengan dua cara, yaitu Al Jam’u bima’na hafazhahu fis sudur dan yang kedua adalah Al jam’u bima’na kitaabatuhu fi suthur . 

Pertama : Al Jam’u bima’na hafazhahu fis Sudur
Pada bagian ini para sahabat langsung menghafalnya diluar kepala setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu. Hal ini bisa dilakukan oleh mereka dengan mudah terkait dengan kultur (budaya) orang arab yang menjaga Turast (peninggalan nenek moyang mereka diantaranya berupa syair atau cerita) dengan media hafalan dan mereka sangat masyhur dengan kekuatan daya hafalannya. 
Di antara para sahabat yang paling terkenal dalam hafalan Al-Qur’an berdasarkan riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, mereka adalah Ibnu Mas’ud, Salim bin Ma’qal, Mu’azd bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin As Sikkin, dan Abu Darda . Mereka berasal dari kaum Muhajirin dan Anshar.
Kedua : Al jam’u bima’na kitaabatuhu fi suthur
Setiap kali turun wahyu kepada Rasulullah SAW, Beliau selalu membacakannya kepada para sahabat secara langsung dan menyuruh mereka untuk menuliskannya, sembari melarang para sahabat untuk menulis hadits-hadits beliau, karena khawatir akan bercampur dengan Al-Qur’an . 
Biasanya sahabat menuliskan Al-Qur’an pada media yang terdapat pada waktu itu berupa Ar-Riqa’ (kulit binatang), Al-Likhaf (lempengan batu), Al-Aktaf (tulang binatang yang kering), Al-`Usbu ( pelepah kurma), Al-Jarid (kulit batang pohon kurma), Al-Aqtab (pelana kuda), Ash-Shuhuf (kertas), Al-Alwah (papan), Azh-Zhurar (batu tipis), Al-Khazaf (tanah yang dibakar/batu bata), Al-Karanif (akar keras pohon saf) . Dan jumlah sahabat yang menulis Al-Qur’an waktu itu mencapai lebih dari 40 orang .
Adapun hadis yang menguatkan bahwa penulisan Al-Qur’an telah terjadi pada masa Rasulullah adalah hadis yang di Takhrij (dikeluarkan) oleh Al-Hakim dengan sanadnya yang bersambung pada Anas , ia berkata:  “Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis Al-Qur’an (mengumpulkan) pada kulit binatang “. Serta kisah masuk Islamnya sahabat Umar bin Khattab  yang disebutkan dalam buku-buku sejarah bahwa waktu itu Umar mendengar saudara perempuannya yang bernama Fatimah sedang membaca awal surah Thaha dari sebuah catatan (manuskrip) Al-Qur’an kemudian Umar mendengar, meraihnya kemudian membacanya. Adapun hal yang lain yang bisa menguatkan bahwa telah terjadi penulisan Al-Qur’an pada waktu itu adalah Rasulullah  melarang membawa tulisan Al-Qur’an ke wilayah musuh . 
Akhirnya dari kebiasaan menulis Al-Qur’an ini menyebabkan banyaknya naskah-naskah (manuskrip) yang dimiliki oleh masing-masing penulis wahyu, diantaranya yang terkenal adalah Khulafaur Rasyidin, Mu’awiyah bin Abi Sofyan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan lain-lain . 
Tulisan-tulisan Al-Qur’an pada masa Rasulullah tidak terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki oleh yang lain. Karena sebelum Rasulullah wafat, pembukuan Al-Qur’an dalam satu mushaf belum dilakukan, sebab Rasulullah masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu kewaktu. Sesudah berakhir masa turunnya Al-Qur’an  dengan wafatnya Rasulullah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para KhulafaturRasyidiin sesuai dengan janji-Nya   yang benar kepada umat tentang jaminan pemeliharaan Al-Qur’an dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar bin Khattab.
Kodifikasi Al-Qur’an Pada Masa Abu Bakar.
Setelah Rasulullah wafat dan Abu bakar dipilih menjadi khalifah.Pada masa pemerintahan Abu Bakar inilah terjadinya kodifikasi Al-Qur’an yang mana susunan surah-surahnya menurut riwayat masih berdasarkan pada turunnya wahyu (hasbi tartibin nuzul).
Usaha pengumpulan tulisan Al-Qur’an yang dilakukan Abu Bakar terjadi setelah Perang Yamamah pada tahun 12 H. Peperangan yang bertujuan menumpas seorang nabi palsu, yakni Musailamah Al-Kadzdzab dan para pengikutnya. Hingga pada akhirnya peperangan tersebut menewaskan 70 orang sahabat penghafal Al-Qur’an .  Khawatir akan hilangnya Al-Qur’an karena para penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur dalam medan perang. Lalu Umar bin Khattab menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Qur’an dari berbagai sumber, baik yang tersimpan didalam hafalan maupun tulisan.Namun pada awalnya Abu Bakar pun tidak setuju dengan apa yang diusulkan oleh Umar bin Khattab. Karena menurutnya, Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah melakukannya. Tetapi Umar bin Khattab terus membujuk Abu Bakar untuk melakukannya dan akhirnya Abu Bakar menerima usulan tersebut. Kemudian Abu Bakar pun memerintahkan Zaid bin Sabit untuk melakukannya. Seperti Abu Bakar sebelumnya, Zaid bin Sabit pun menolak perintah Abu Bakar dengan alasan yang sama. Setelah terjadi musyawarah, akhirnya Zaid bin Sabit menyetujui usulan tersebut .
Dalam usaha pengumpulan ini, Zaid Bin Tsabit berpegang pada tulisan-tulisan yang tersimpan di rumah Rasulullah, hafalan-hafalan dari sahabat dan naskah –naskah yang ditulis oleh para sahabat untuk mereka sendiri. Zaid bin Tsabit menghimpun surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan petunjuk Rasulullah sebelum Beliau wafat dan menulisnya pada berbagai macam benda.
Mushaf-mushaf yang telah terkumpul lalu disimpan di rumah khalifah Abu Bakar hingga beliau wafat. Mushaf-mushaf ini kemudian dipindahkan dan disimpan di rumah khalifah Umar bin Khattab hingga beliau wafat. Terakhir, mushaf-mushaf ini disimpan di rumah Ummul Mukminin Hafshah sesuai wasiat dari khalifah Umar bin Khattab .
Semua sahabat sepakat untuk memberikan dukungan mereka secara penuh terhadap apa yang telah dilakukan oleh Abu bakar berupa mengumpulkan Al-Qur’an menjadi sebuah Mushaf. Kemudian para sahabat membantu meneliti naskah-naskah Al-Qur’an dan menulisnya kembali. Sahabat Ali bin Abi Thalib berkomentar atas peristiwa yang bersejarah ini dengan mengatakan : " Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf adalah Abu bakar, semoga ia mendapat rahmat Allah karena ialah yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur’an, selain itu juga Abu bakarlah yang pertama kali menyebut Al-Qur’an sebagai Mushaf.” 
Kodifikasi Al-Qur’an Pada Masa Utsman Bin Affan.
Pada masa khalifah Utsman bin Affan kaum muslimin mulai banyak yang berselisih tentang Al-Quran. Disebutkan bahwa di wilayah-wilayah yang baru dibebaskan, sahabat nabi yang bernama Hudzaifah bin Al-Yaman terkejut melihat adanya perbedaan dalam membaca Al-Quran hingga satu kaum mengkafirkan yang lain. Hudzaifah melihat penduduk Syam membaca Al-Qur’an dengan bacaan Ubay bin Ka’ab, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Irak. Begitu juga ia melihat penduduk Irak membaca Al-Qur’an dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Syam. Perbedaan bacaan tersebut juga terjadi antara penduduk Kufah dan Bashrah.
Setelah itu Hudzaifah segera mendatangi khalifah Utsman dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sadarkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Quran sebagaimana perselisihan antara Yahudi dan Nasrani.” Kemudian Utsman bin Affan menerima usulan tersebut. Beliau lalu mengirimkan utusan untuk meminjam mushaf kepada Hafshah untuk disalin.  Ia memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al-‘Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushaf. 
Mushaf yang telah tersusun kemudian disalin dan dikirimkan tujuh kota, yaitu Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah. Walaupun sebenarnya terjadi perbedaan pendapat dalam hal ini. Para ulama berpendapat bahwa mushaf yang ditulis pada masa Utsman bin Affan ada yang berjumlah delapan mushaf , tujuh mushaf , lima mushaf dan empat mushaf . Terlepas dari perbedaan tersebut, mushaf inilah yang dikenal dengan mushaf  Utsmani. Lalu Utsman bin Affan memerintahkan kepada seluruh negeri agar umat muslim menggunakan mushaf  Utsmani. Ia juga memerintahkan semua mushaf yang bertentangan dengan mushaf  Utsmani dibakar. Dan beliau juga menyuruh supaya memakai mushaf Utsman supaya tidak terjadi perpecahan dan perselisihan di antara mereka. 
Sesudah mushaf-mushaf tersebut dikirim keberbagai kota dan Utsman bin Affan memerintahkan supaya umat muslimin memakai bacaan seperti bacaan Utsman bin Affan. Kemudian beliau memerintahkan untuk membakar mushaf-mushaf yang berbeda dengan mushaf Utsmani.Atas tindakan ini, banyak para sahabat dan tabi’in yang marah. Mereka mengecam tindakan Utsman bin Affan yang tidak pernah dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Seperti contohnya Ibnu Mas’ud, beliau merasa tersinggung sekali karena mushaf yang diambil dari beliau juga dibakar. Beliau mengatakan bahwa beliau lebih dulu dari Zaid bin Tsabit masuk Islam. Beliau meminta sahabat-sahabatnya untuk mempertahankan mushaf-mushaf mereka.
Menanggapi kecaman tersebut, kemudian Utsman bin Affan menulis surat kepada para sahabat-sahabat beliau untuk menyetujui tindakan tersebut demi kebaikan bersama dan menghindari perselisihan. Tindakan Utsman bin Affan pada masa itu merupakan kebijakan yang luar biasa, karena dengan demikian kemurnian Al-Qur’an akan selalu terjaga sebagaimana yang telah diwahyukan oleh Allah kepada rasulullah. Dan atas tindakan ini, ketika Ali bin Abi Thalib ketika ditanya tentang pembakaran mushaf yang dilakukan Utsman bin Affan, beliau menjawab, “Kalaupun dia tidak melakukan itu, saya yang akan melakukannya”. Dan di depan orang banyak Ali berkata, “ Saudara-saudara, janganlah kalian berlebihan dalam mengatakan Utsman telah membakar mushaf. Dia membakarnya sepengetahuan sahabat-shaabat Rasulullah.Kalau saya dibaiat seperti dia, niscaya akan saya lakukan seperti yang dikerjakannya itu”. 

Perbedaan kodefikasi Al-Qur’an Pada Masa Abu Bakar Ash Shiddiq dan Utsman Bin Affan.
Pengumpulan Mushaf pada masa Abu Bakar  adalah bentuk pemindahan dan penulisannya Al-Quran ke dalam satu Mushaf yang ayat-ayatnya sudah tersusun, berasal dari tulisan yang terkumpul dari kepingan-kepingan batu, pelepah kurma, kulit-kulit binatang dan lain-lain. Adapun yang melatar belakanginya adalah upaya memelihara Al-Qur’an dari kepunahannya, karena banyak para shabat penghafal Al-Qur’an yang gugur syahid pada perang Yamamah dan juga atas bujukan Umar bin Khattab. 
Adapun pengumpulan Mushaf pada masa Usman bin Affan adalah menyalin kembali Mushaf yang telah tersusun pada masa Abu Bakar dengan tujuan untuk dikirimkan ke seluruh Negara Islam. Dan yang melatar belakanginya adalah terjadinya suatu perbedaan dalam hal membaca Al-Qur’an sebagaimana yang dilaporkan oleh Huzdaifah kepada Utsman bin Affan. Selain berbeda cara membaca antara mereka dan mereka juga saling menyalahkan satu sama slain. Maka atas dasar inilah Utsman bin Affan khawatir akan terjadi pertumpahan darah yang lebih besar, sehingga beliau memerintahkan untuk menulis Al-Qur’an dalam satu mushaf  dengan tertib ayat dan suratnya seperti yang ada sekarang ini. Beliau mengambil jalan tengah untuk menulis Al-Qur’an dengan dialek bahasa Qurasy dengan alasan bahwa Al-Qur’an di turunkan dengan bahasa mereka. 
Penutup.
Adapun kesimpulan yang dapat kita ambil dari penjelasan di atas yaitu:
  1. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Rasulullah, yaitu bahwa semua Al-Qur’an itu telah dituliskan dan telah tersusun berdasarkan petunjuk Rasul, walaupun sutat-suratnya belum tersusun seperti apa yang dilihat sekarang ini dan tulisan-tulisannya belum terhimpun dalam satu kesatuan yang terdiri dari benda-benda yang beragam.
  2. Pengumpulan Al-Qur’an di masa Abu Bakar ini ialah bahwa Al-Qur’an itu terkumpul di dalam satu mushaf yang terbuat dari lembaran-lembaran yang beragam, baik bahannya maupun ukurannya, dan ayat-ayatnya tetap tersusun sesuai yang telah ditunjukkan Rasulullah.
  3. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Usman bin Affan adalah menyeragamkan bacaan Al-Qur’an dengan jalan menyeragamkan penulisannya kemudian membukukannya dengan menyalinkan kembali ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah  ditulis pada masa Abu Bakar, sehingga menjadi mushhaf yang lebih sempurna yang akan dijadikan standar bagi seluruh kaum muslimin sebagai sumber bacaan dan hafalan lalu diperbanyak dan dikirimkan ke daerah-daerah.

REFERENSI
Al Qur’anul Karim
Hasan Ayyub, Al Hadits fi Ulumil Qur’an, ( Mesir : Darus Salam, 2007), Cet. Ketiga
Muhammad Abdul Azhim Al Zarqani, Manahil Al-‘Urfan fi Ulum Al-Qur’an,  (Beirut : Darul Kitaab Al ‘arabiy, 1995)  Cet. 1
Manna’ Khalil Al-Qathan, Mabaahits fii Ulumil Qur’an, 1990
Dr. Fahdlu Hasan Abbas, Itqaanul Burhan fi Ulumil Qur’an, Juz 1 ( Jordan : darun Nafaa’is, 2010) Cet. Kedua,
Imam Muslim, Shahih Muslim, ( Riyadh : Darus Salam, 2000), Cet. Kedua
Dr. Muhammad bin Luthfi Ash-Shibagh, Lamhaatu fi Ulumil Qur’an wa Ittijaahaat At Tafsiir, (Beirut : Al Maktab Al Islami, 1990), Cet. Ketiga
Muhammad Thahir, Taarikhul Qur’an wa Garaa’ibu Rasmihi wa Hukmihi, ( Riyadh : Daar Adhawaa’us Salaf, 2008), Cet. Pertama
Ibnu Hisyam, As Sirah An Nabawiyah, Jilid Kedua, ( Beirut : Al Markaz Ats Tsaqafi Al Banaani, 2004), Cet. Pertama
Imam Muslim, Shahih Muslim, Cet. Pertama, ( Mesir : Daarul Hadits, 1991), Juz 3, hal. 1491
Jaluddin As Suyuthi, Al Itqaan fi Ulumil Qur’an, Juz Pertama, (Beirut : Al Maktabah Al Ashriyah, 2003),
 
sumber: www.kaliakbar.com

Sabtu, 16 Januari 2016

11 KATA-KATA MUTIARA SPEKTAKULER BUNG KARNO

 Oke nih temen-temen, sekarang kita bakal bahas sosok seseorang yang udah ga asing lagi diantara kita. Yaitu sosok pahlawan proklamator kita , siapa lagi kalau bukan Ir. Soekarno atau yang lebih kita kenal dengan sapaan Bung Karno. sebelum kita masuk ke pembahasan inti, kita bahas dulu biografi singkat sang pahlawan proklamator.
  Ir. H. Soekarno, beliau adalah presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1945–1966. Beliau dilahirkan di Blitar pada tanggal 6 Juni 1901 dengan nama Koesno Sosrodihardjo. Beliau memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Beliau adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan beliau sendiri yang menamainya. Beliau memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 bersama Bung Hatta di kediaman beliau Jl. Pegangsangan Timur No.54 Djakarta. Sehari kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 beliau dan Bung Hatta pun diangkat oleh PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia pertama. Beliau berkuasa hingga tanggal 22 Februari 1966 dan digantikan oleh Soeharto. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Jakarta pada tanggal 21 Juni 1970.
  Nah gimana tuh biografi singkatnya, ga kebayang kan betapa besarnya jasa beliau. Keahlian Bung Karno dalam berpidato sudah tidak bisa diragukan lagi kepiawaiannya. Suara lantang, penuh wibawa tegas dan menggelegar membuat banyak musuh-musuh Indonesia gemetar dan merinding terhadap kata-kata penuh semangatnya. Tapi, bahasa dan tutur kata beliau yang indah dan bermakna besar seringkali membuat para pemimpin-pemimpin dunia bertepuk tangan bahkan ada yang rela menyempatkan waktunya hanya untuk mendengarkan seorang Bung Karno berpidato.
  Baik kita masuk ke inti pembicaraan nih. Dari berbagai macam kata-kata mutiara Bung Karno, gue udah ngehimpun nih 11 kata-kata mutiara spektakuler beliau yang sangat sensasional dan penuh makna. Nih dia :

1. Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia
- Ir.Soekarno-

2. Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”.  Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya
- Ir.Soekarno-

3. Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak.
- Ir.Soekarno-

4. Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya.
-Ir.Soekarno-

5. Merdeka hanyalah sebuah jembatan, Walaupun jembatan emas.., di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa.., satu ke dunia sama ratap sama tangis!
-Ir.Soekaro-

6. Tuhan menciptakan bangsa untuk maju melawan kebohongan elit atas, hanya bangsanya sendiri yang mampu merubah nasib negerinya sendiri.
-Ir.Soekarno-

7.  Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.
-Ir.Soekarno-

8. Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
-Ir.Soekarno-

9. Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.
-Ir.Soekarno-

10. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.
 -.Ir.Soekarno-

11.  Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.
-Ir.Soekarno-

  Oke, semoga bisa memotivasi kita semua ya guys. Dan semoga ini bermanfaat khususnya buat gue sendiri dan umumnya buat kita semua amin.

Si Anak Payah Penuh Inspirasi

  Suatu hari ada seorang guru yang menanyakan tentang cita-cita kepada murid-muridnya di dalam kelas. Lalu masing-masing murid pun menuliskan cita-cita diselembar kertas. Akhirnya, satu persatu mereka ditanya oleh gurunya apa cita-cita mereka. Si ranking satu berkata " Arsitek bu ", ranking dua "dokter bu, ranking tiga "pengusaha bu, dan seterusnya hingga si anak ranking terakhir.Dan si guru pun bertanya "apa cita-cita kamu nak? " , teman-teman nya pun meledek dirinya, merendahkan, "ah, paling cuman tukang becak, diakan payah hahaha".
   Akhirnya, dengan penuh senyum dan kerendahan hatinya, diapun berkata "aku ingin menjadi penguhi jannatul firdaus bu, aku memang payah, aku memang susah untuk memahami pelajaran bu, selalu mendapat celaan dan hinaan karena aku hanya mendapat ranking terakhir di kelas. Tapi, ibuku selalu berkata kepadaku " nak, walaupun kamu hanya mendapat ranking paling bawah, ingatlah untuk terus berusaha, ranking hanyalah ranking, tidak akan menentukan kesuksesan, yang menentukan kesuksesan itu adalah dirimu sendiri nak, selalu tawadhu, berproses dengan baik, dengan kamu jujur dan ikhlas saja terhadap hinaan, ledekan dan apa saja yang menimpanya dirimu, ibu sudah bangga nak. Karena tujuan hidup ini semata hanya kepada Allah".
  Seketika, suasana kelas pun suntuk. Sang guru menangis dan terharu, karena kerendahan hati anak itu. Dan teman-temannya pun berebut kertas cita-cita tadi dan secara bergantian akhirnya mengganti semua cita-cita yang mereka tulis tadi.

Semoga Bermanfaat 🙏

Sumber: http://rasyidahsan.blogspot.com

Jumat, 15 Januari 2016

Siapa Sih , Ibnu Batutah Itu ?

                                                           

  Oke nih , sekarang pembahasan saya nih yang pertama di blog ini adalah siapa sih sosok penjelajah islam yang sangat terkenal, termasyur dan juga menjadi inspirasi bagi kita, khususnya bagi kalian yang cinta banget sama traveling atau bertualang. Tapi sebelum itu mari kita mengenal profil beliau yang saya kutip dar www.wikipedia.org
  Nama asli beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Battutah (bahasa Arab: أبوعبدﷲ محمد إبن بطوطة, Abu Abdullah Muhammad ibn Bathuthah) atau juga dieja Ibnu Batutah (24 Februari 1304 - 1368 atau 1377) adalah seorang pengembara Berber Maroko. Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.
  Naah cerita pengembaraan beliau bermula ketika usia beliau sekitar duapuluh tahunan, beliau memulai perjalananya setelah menunaikan ibadah haji pada tanggal 14 juni 1325 M, dimulai dari perjalanan darat yang kebanyakan dilakukan dengan berjalan kaki menyeberangi Tunisia menuju negeri seribu menara Alexandria Mesir yang menurutnya Alexandria adalah pusat perdagangan dan memiliki angkatan laut terkuat di laut Mediterranean.
  Sebenarnya nih, beliau berniat untuk pulang kembali ke Maroko. Tapi nih, ketika beliau berada di tanah suci Mekkah, beliau melihat banyak sekali jema'ah haji yang berasal dari berbagai pelosok negeri di seluruh dunia. Akhirnya dari situlah beliau mulai memiliki niat untuk mengetahui tempat asal para jema'ah haji itu berasal. Dan itu merupakan titik awal sebuah ide pengembaraan yang spektakuler dan tentunya, wooow.
 
Mulai dari melintasi gurun pasir arab menuju iran, kemudian dilanjutkan menuju Mosul di India dan berlayar menuju Somalia pantai timur Afrika termasuk Ziela dan Mambiesa, setelah sebelumnya menjelajahi Aden. Dalam perjalanan itu beliau selalu tinggal minimal satu minggu di Negara yang di singgahinya.
  Dilanjutkan menyusuri Nubia, Nil Hulu, Kairo, Syria dan tiba di Lhadhiqiy dan belayar ke Alaya di pantai selatan di Asia Kecil. pada tahun1333 M, Ibnu Batutah melanjutkan pengembaraan melalui jalur darat melewati dataran Rusia hingga sampai ke istana Sultan Muhammad Uzbeg Khan di tepi Sungai Wolga. Sempat juga Ibn Batutah mengunjungi Kaisar Audronicas di Byzantium.
  Perjalanan ini tidak selalu mulus karena di kawasan Cambay di India, beliau sempat diserang dan di tawan gerombolan penyamun. Namun, Berkat permohonan seseorang beliau selamat dan dilepaskan.
Pengembaraan Ibn Batutah juga sampai ke wilayah Samudera Pasai (Aceh) dan sempat tinggal 15 hari di negeri yang beliau sebut sebagai Negeri nan hijau dan subur yang memiliki keidahan alam yang luar biasa. Sedangkan Dalam kunjungannya ke Cina, tercatat kekaguman Ibnu Batutah terhadap kekuatan armada besar yang dibangun mereka. Petualangan Ibn Batutah sang pengembara dari timur bahkan pernah sekilas di bahas dalam film NINJA ASSASSIN, dimana dikatakan bahwa Ibn Batutah pernah singgah di pemukiman Klan Ozunu yang terkenal sebagai ninja pembunuh bayaran paling sadis yang pernah ada.
  Beliau selalu menghabiskan sekitar seminggu di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombasa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti perubahan arah angin, beliau bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. Setelah menyelesaikan petualangannya, sebelum menetap, beliau berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, beliau berziarah ke Mekah lagi.
  Setelah setahun di sana, beliau memutuskan untuk mencari pekerjaan di kesultanan Delhi. Untuk keperluan bahasa, Ibnu Batutah mencari penterjemah di Anatolia. Kemudian di bawah kendali Turki Saljuk, beliau bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai selatan Turki sekarang. Dari sini beliau berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.
Setelah menyeberangi Laut Hitam, beliau tiba di Kaffa, di Crimea, dan memasuki tanah Golden Horde. Dari sana Ibnu Batutah membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

  Nah gimana nih teman-teman, semoga bermanfaat ya. Dan kalau kalian-kalian semua pengen tau nih tentang tokoh-tokoh islam lainnya, silahkan tulis di komentar nama tokohya. Oke kawan semoga senantiasa berada dalam lindungan yang Allah Swt., amin.